Pencarian Jurnal STT Abdi Sabda Medan
Judul Jurnal : Radikalisme Agama
ISSN / e-ISSN : 1907-0861 / -
Tanggal Terbit : 2009-12-01

KATA PENGANTAR

 

            Jurnal Teologi yang sedang anda baca ini merupakan buah pergumulan ontologis para penulis dalam lingkup thema RADIKALISME; mengkaji antara agama, perdamaian dan kekerasan. Thema ini lahir sebagai tanda keprihatinan para tim editor terhadap bencana teror (dalam bentuk tragedi bom) yang melanda Indonesia sejak tahun 2000. Puncak keprihatinan yang kemudian melahirkan thema edisi XXII ini adalah peristiwa ledakan bom pada 17 Juli 2009 di Hotel JW. Marriot dan Ritz-Carlton di Mega Kuningan Jakarta.

            Tampaknya sejak peristiwa 17 Juli 2009 itu, pemerintah dan bangsa kita tidak mau mendapat cap sebagai yang lengah dan lunak dalam mengantisipasi, mengatasi dan menumpas teroris. Berbagai sektor seakan terkomando dan termotivasi untuk terlibat memikirkan dan mengatasi cap itu, baik dari sektor keamanan (khususnya Densos 88 yang terus melancarkan gerakan penumpasan teroris), kalangan pendidikan, aktivis-aktivis sosial, budayawan-budayawan, tokoh-tokoh agama, bahkan para senias dan olahragawan, semuanya terdorong memberi sumbangsih pemikiran dan peran untuk mengatasi cap itu, sebagai bentuk dan tanda keprihatinan bersama atas ancaman radikalisme.

            Sumbangsih pemikiran yang anda baca dalam jurnal Theologia ini merupakan hasil olah pemikiran dan pergumulan dari kalangan pendidik, sekaligus juga sebagai hasil olah refleksi teologis dari tokoh-tokoh agama, yang sehari-hari bertatap muka dengan mahasiswa-i maupun jemaah berkenaan dengan kerja dan pelayanannya sebagai tenaga pengejar dan pewarta. Harapan dari semua kalangan tadi tersimpul dalam tujuan dan maksud Jurnal edisi XXII ini, yakni supaya semua pembaca tidak berada, tidak berlindung dan tidak terlibat dalam posisi teroris, baik dalam perbuatan maupun dalam perkataan. Intinya tidak manut, tidak salut dan tidak menganut teologi dan ideologi (paradigma berpikir) teroris. Tetapi harus berada, berdiri dan terlibat dalam posisi sebaliknya, yakni supaya semua pembaca berada, berdiri dan terlibat dalam posisi teologia “Allah adalah Kasih dan Kristus adalah Hidup dan Roh Kudus adalah Penolong”, baik dalam perkataan maupun dalam perbuatan. Intinya: “kenakanlah kasih, sebagai pengikat yg mempersatukan dan menyempurnakan. Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil … Dan bersyukurlah” (Kol. 3:14-15). Sebab tidak ada cita-cita yang lebih luhur dalam dirimu selain dari cita-cita yang ditanamkan Kristus bagimu: “hidup dalam perdamaian dengan semua orang” (Rm. 12:18). Itulah kebahagiaan dari anak-anak Allah, yakni misi damai yang diembankan dan diamanahkan Kristus padanya untuk diwartakan dan dilakukannya (Mat. 5:9).                                                                    

                                                                                                Salam Redaksi