Pencarian Jurnal STT Abdi Sabda Medan
Judul Jurnal : REFORMASI 500 TAHUN MARTIN LUTHER
ISSN / e-ISSN : 1907-0861 / -
Tanggal Terbit : 2017-12-01

KATA PENGANTAR

 

Tahun 2017 merupakan tahun yang sangat istimewa bagi perjalanan sejarah gereja khususnya Gereja Protestan,  karena tepatnya 31 Oktober 2017 adalah peringatan 500 tahun reformasi gereja. Merespon sukacita 500 tahun reformasi gereja, Jurnal STT Abdi Sabda edisi ke - 38 mengangkat tema reformasi gereja.   Mendalami Reformasi Gereja mengingatkan kita pada peristiwa dimana Martin Luther mencetuskan 95 dalil di Gereja Istana  Wittenberg, Jerman pada tanggal 31 Oktober 1517  yang diperingati sebagai hari   Reformasi Gereja oleh  Martin Luther. Konsep reformasi  (dari bahasa Latin: reformatio, kata kerjanya: reforma) tiga arti yang berbeda, yaitu perubahan (change), pembaruan (renewal), dan perbaikan (improvement).  Secara khusus   konsep-konsep ini dilihat sebagai koreksi atas situasi saat itu yang sangat bobrok dan mengembalikannya kepada sebuah standar atau  norma ideal, termasuk pandangan dari ecclesia primitive (Gereja Mula-mula).  Dalam perkembangannya  kata reformasi ini secara umum dalam konteks gereja menjadi  sebutan bagi gereja-gereja Kristen Protestan yang berdiri atas reformasi gereja yang berlangsung dalam lingkungan Gereja Barat dari abad 16, yang dicirikan dengan  penolakan terhadap beberapa ajaran serta kebiasaan Gereja  Katolik Roma,  yang dinilai sudah menyimpang dari Alkitab.  Reformasi menunjuk pada pembaruan terhadap gereja. Gereja seolah-olah dihidupkan agar  kembali pada sumber pemberi hidupnya, yaitu Allah dan Firman-Nya.

Martin Luther tidak bermaksud untuk memecah gereja ketika mencetuskan 95 dalilnya dipintu Gereja Istana di kota Wittenberg.  Martin Luther melihat bahwa anti Kristus telah mengambil alih kepausan di Roma dan memanfaatkan gereja untuk tujuannya sendiri. Tujuan Martin Luther adalah memperbaharui atau mereformasi gereja, supaya sesuai dengan ajaran Kitab Suci (Sola Scriptura). Ia berkeyakinan bahwa bukan oleh perbuatan manusia melainkan iman kepada anugerah Allah-lah yang menyebabkan manusia diberi keselamatan ( “Sola Fide” : hanya oleh iman, dan “Sola Gratia” : hanya karena anugerah). Dalam reformasinya, Luther tidak menginginkan pembaharuan gereja secara menyeluruh,  tetapi dengan pembaharuan yang dimulai dari pemahaman mengenai cara manusia memperoleh keselamatan.  Luther mulai menyebarkan beberapa pemikiran di kalangan para koleganya  di Universitas Wittenberg.  Tetapi minat terhadap gugatan Luther di kalangan para akademisi pada awalnya  relatif kecil. Titik meletusnya gerakan reformasi Luther adalah masalah penjualan surat Indulgensia pada masa pemerintahan Leo X untuk membangun gedung gereja Rasul Petrus di Roma. Dengan memiliki surat indulgensia, dengan cara membelinya, seseorang yang telah mengaku dosanya di hadapan imam   tidak dituntut lagi untuk membuktikan penyesalannya dengan sungguh-sungguh. Setelah Martin Luther mencetuskan  95 dalil di Gereja Istana Wittenberg, perhatian publik terhadap dalil-dalil itu sangat mengejutkan. Dalam tempo empat minggu dalil-dalil itu sudah menyebar ke seluruh Jerman, baik dalam bentuk teks asli berbahasa Latin maupun dalam terjemahannya berbahasa Jerman. Menilai hal ini, sejumlah studi sejarah  menekankan bahwa dalam kerangka keagamaan, sosial politik, kebudayaan dan ekonomi, dunia  Eropa menjelang dan pada saat terjadinya  peristiwa reformasi sedang dalam proses perubahan mendasar. Gejolak kehidupan bermasyarakat ikut serta ditopang oleh keadaan internal gereja yang digambarkan sebagai berada dalam dark ages (masa kegelapan).  Dalil-dalil Luther  dianggap menyuarakan kemarahan rakyat Jerman terhadap eksploitasi yang terjadi.  Dukungan rakyat Jerman untuk dalil-dalil Luther juga disebabkan karena keresahan mereka akan pajak-pajak berlebihan yang harus dibayar ke Roma. Dengan kata lain, keadaan sosial  politik di Jerman  sangat menolong Luther dalam keberhasilan reformasi sehingga reformasi gereja dianggap juga sekaligus reformasi sekuler.

Reformasi Jerman membuka ruang bagi hadirnya semangat reformasi di tempat-tempat lainnya di Jerman, termasuk di wilayah Switzerland (Zurich: Ulrich Zwingly dan Jenewa: Yohanes Calvin), bahkan sampai di Indonesia Artinya sejarah reformasi  gereja belum ditutup, dalam pengertian reformasi gereja harus tetap dilanjutkan. Karena gereja hadir bukan hanya sebagai lembaga saja, tetapi mewujudkan tanda-tanda Kerajaan Allah di dunia. Semangat reformasi adalah semangat mencintai Firman Tuhan. Pemahaman sola fide, sola scriptura dan sola gratia menjadi pegangan Luther  untuk membarui gereja sekaligus masyarakat Jerman pada masanya.  Dengan semangat reformasi 500 tahun para pelayan gereja di jemaat dan di lembaga-lembaga serta seluruh jemaat khususnya mahasiswa teologia perlu terus menerus mereformasi diri. Gereja dan dunia dalam pergerakan yang masih belum selesai,  terus menerus  menuju kesempurnaan. Oleh karena itu gereja harus senantiasa tekun mempelajari Firman Tuhan/Alkitab  sebagai dasar pengajaran. Alkitab  menjadi azas tunggal untuk  menggali dan mengembangkan  teologi, dogma serta praktek gereja. Sebagaimana yang tertulis dalam Mazmur 119:105: FirmanMu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.

Salam Redaksi

 

 

 

DAFTAR ISI

Artikel Utama:

 

1.  500 Tahun Reformasi Gereja

2.  Sola Sciprtura, Sola Gratia, Sola Fide

3.  Alkitab Menurut Martin Luther

4.  Makna 500 Tahun Reformasi Martin Luther Bagi Etika Kristen

 

Wacana Teologi

1.  Memahami Tubuh Kristus Sebagai Eklesia

2.  Reformasi Calvin dan Dampaknya Bagi Gereja Masa Kini

3.  Kajian Historis 500 Tahun Reformasi Martin Luther

4.  Reformasi Dalam Modernisasi

 

Risensi Buku:

1. Seri Calvin: Warisan Jhon Calvin, Pengaruhnya di Dunia Modern