Pencarian Jurnal STT Abdi Sabda Medan
Judul Jurnal : PENDIDIKAN MULTIKULTURAL
ISSN / e-ISSN : 1907-0861 / -
Tanggal Terbit : 2018-05-05

KATA PENGANTAR

 

           

Jurnal STT Abdi Sabda edisi ke-39 mengangkat tema: Pendidikan Multikultural. Pendidikan Multikultural menjadi sesuatu yang mendesak untuk diimplementasikan dalam praksis pendidikan di Indonesia yang sarat dengan keberagaman. Praktek Pendidikan Multikultural di Indonesia tampaknya tidak dapat dilaksanakan seratus persen. Hal ini disebabkan oleh perjalanan panjang historis penyelenggaraan pendidikan yang dilatarbelakangi oleh primordialisme, berupa latar belakang agama, daerah, perorangan maupun kelompok.

Pendidikan Multikultural berkembang di Amerika di kalangan kulit hitam  yang dipelopori oleh James Banks. Dimana Pendidikan Multikultural berusaha memberi kesempatan yang sama kepada semua peserta didik yang berasal dari suku, gender, etnis dan budaya, kelas sosial dan agama yang berbeda dengan mengubah lingkungan pendidikan secara total, sehingga mencerminkan  keberagaman budaya dan kelompok dalam suatu masyarakat.

Dalam Pendidikan Multikultural para pengajar tidak selamanya menjadi roll model bagi anak-anak didik tetapi menjadi penumbuh nilai-nilai kemandirian. Lembaga pendidikan atau sekolah harus dipandang sebagai suatu masyarakat. Melalui pembelajaran berbasis multikultural, siswa dikembangkan dalam akar budayanya dan hal ini sangat relevan dalam konteks masyarakat yang demokratis. Hal ini berimplikasi bahwa siswa dipandang sebagai suatu individu yang mempunyai karakteristik yang terwujud dalam bakat dan minat  serta aspirasi yang menjadi hak siswa. Pendidikan Multikultural membantu semua peserta didik agar memperoleh pengetahuan, sikap dan keterampilan yang diperlukan dalam menjalankan peran seefektif mungkin  sehingga interaksi dan komunikasi dapat berjalan untuk kebaikan bersama. Pendidik dan fasilitator harus membangun hubungan kemitraan dengan peserta didik guna membangun suatu visi yang memampukan mereka untuk saling menghargai dan mempromosikan realita multikultural. Dalam konteks Indonesia, Pendidikan Multikultural memahami, menghargai dan menghormati kemajemukan dan pluralitas suku, ras, agama, budaya dan kelas sosial untuk hidup dalam konteks yang lebih luas menjadi suatu keharusan. Pendidikan yang kuat harus mampu berdiri dalam keanekaragaman sehingga institusi  tersebut harus membangun relasi yang dekat termasuk dalam budaya dan peradapan yang berbeda. Belajar budaya antar lintas waktu sangat menarik karena manusia dibentuk dalam waktu, dan waktu yang berbeda, sehingga setiap keadaan memberi kesan dan pesan yang istimewa.

Seluruh lembaga yang berperan sebagai stake holder dalam penentu pertumbuhan generasi manusia harus mengajarkan nilai-nilai dan moral. Pendidikan diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dan menjunjung tinggi Hak Azasi Manusia, nilai keagamaan, nilai kultural dan  kemajemukan bangsa. Dengan demikian secara konseptual Pendidikan Multikultural tidak hanya mengandung unsur keberagaman agama dan budaya tetapi juga mengandung unsur kesederajatan dan berkeadilan.           

            Belajar dalam format Pendidikan Multikultural  adalah kegiatan yang tanpa batas baik ruang dan juga waktu. Belajar ada yang formal tapi ada yang informal. Belajar bukan hanya dari diri sendiri  tetapi juga dari orang lain serta dunia di sekitar kita.  Pernyataan Allah banyak terjadi lewat peristiwa-peristiwa yang kita lihat, didengar dan dirasakan oleh orang-orang percaya, sehingga lewat pernyataan tersebut mereka sanggup menuliskan dan mewariskan Firman Tuhan tersebut dalam lintas budaya, lintas zaman dan peradaban. Pendidikan Multikultural sejalan dengan teologi kontekstual yang banyak dibicarakan dalam pertumbuhan gereja dalam identitas dan misinya. Kekristenan harus berjalan dalam adat budaya dimana ia berada. Sehingga keberimanan bukan keterasingan yang menilai sesamanya jahat dan berdosa sehingga sedaya mungkin perlu dihindari. Gereja dalam tugas pengajaran dan pemberitaan harus hidup bersama dalam persoalan masyarakat yang sama tetapi nilai keberimanan tetap teguh. Dengan kata lain, walaupun budaya penting dalam mewujudkan teologi kontekstual tetapi harus cerdas memperhatikan mana yang hakekat (yang tetap) dan mana yang konteks (yang bisa berubah).

Format keberagamaan haruslah menjadi format keberagamaan yang memberdayakan umat dan semua manusia sehingga mampu menghargai kehidupan yang manusiawi. Format keberagamaan  yang memberdayakan manusia ialah suatu bingkai hidup keberagamaan yang memungkinkan manusia yang menganut agama itu dapat bertumbuh sebagai pribadi yang memuliakan Allah dengan jalan mengabdi kepada kemanusiaan. Dengan cara seperti ini maka setiap  orang beragama dapat membebaskan diri dari menjadi korban atau membuat orang lain korban hidup keberagamaan yang dianutnya. Ketidakcerdasan dalam beragama dapat membuat seseorang atau komunitas agama tertentu gampang sekali jatuh ke dalam fanatisme yang sempit.  Dengan kata lain kecerdasan beragama melahirkan keberagamaan yang memberdayakan (empowerment). Sebaliknya ketidakcerdasan dalam beragama akan melahirkan keberagamaan yang memperdayakan (powerless). Dalam konteks kekristenan, Pendidikan Multikultural sangat penting diterapkan untuk menghasilkan kemandirian. Kemandirian yang saling menguatkan, menghidupkan, memberdayakan satu dengan yang lainnya. Kesadaran iman dan kesadaran hidup menggereja multikultural yang mengandung semangat hidup menggereja yang saling menguatkan, menghidupkan dan memberdayakan.

Salam Redaksi.